Selamat Datang

    Cinta Tak Bertuan

    Cinta Tak Bertuan

    Cinta Tak Bertuan

    selamat Datang Teman

    Cinta Tak Bertuan

    Diberdayakan oleh Blogger.

    You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

    Pengikut

SELAMAT DATANG DI BLOGG FATHUR RAHMAN SISWA MAN2 BENGKULU

makalahminangkabau


MINANGKABAU; DULU DAN KINI

  1. Pendahuluan

Dimano asa titiak palito
Di baliak telong nan batali
Dari mano asa niniak kito
Di puncak Gunuang Marapi

            Untaian pantun indah di atas dapat ditemui dalam buku-buku gurindam adat dan Tambo Alam Minangkabau. Orang Minang me-ma’lum-kan dalam Tambonya bahwa ninik moyang mereka dinisbahkan kepada Alexander Agung penguasa dan penakluk dunia berkebangsaan Yunani yang di dalam al-Qur’an disebut dengan Iskandar Zulqarnain.
            Sebelum memaparkan penafsiran gurindam Tambo di atas penulis ingin menyatakan bahwa sangat sulit memastikan kebenaran kesamaan antara Alexandernya Orang Minang Zulqarnain dengan Zulqarnainnya penguasa bertauhid dalam al-Qur’an. Begitu juga dengan Maharajo Alif. Maharajo Dipang. Dan Maharajo Dirajo yang datang ke pulau Ameh Ranah Minang tercinta ini. Kesulitan ini dirasakan karena tidak adanya bukti sejarah yang jelas yang menhubungkan keduanya.
            Sebagaimana kebiasaan tradisi lisan masyarakat Minang yang tertuang dalam falsafah mereka “ Kok satititiak bapantang lupo, sabarih bapantang hilang, kato nan biaso bakieh, rundiang nan biaso bamisa”. Pepatah ini menggambarkan bahwa pemahaman tambo tentu tidak tepat kalau dibedah dengan pisau analisis ilmiah dan sejarah semata. Pemahaman tambo tentunya perlu ditempatkan pada medan bedah dengan menggunakan pisau dalam konteks kiasan dan perumpamaan.
            Tulisan ini mencoba memberikan satu bentuk penafsiran tambo yang tentunya sangat debatable. Ada kemungkinan kesamaan tokoh dalam babak kisah tambo terutama Zulqarnaini dengan tiga putranya yang dalam perkembangannya dari anak yang bungsu si Maharajo Dirajo yang kemudian memiliki pelanjut yang kita kenal dengan Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang yang dibangsakan dengan awal mula berdirinya kominitas orang Minang.
            Sebagaimana teori pembangunan masyarakat Ali Syari’ati yang menjadikan Hijrah sebagai tonggak terbinanya suatu masayarakt baru, hal ini pun bisa terjadi pada masyarakat Minang tempo dulu. Ini artinya kedatangan Maharajo Dirajo ke ranah Minang ini tidak tertutup kemungkinan bahwa daerah ini sudah didiami lebih duluan oleh komunitas masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan adanya suku yang bernama Melayu yang sama namanya dengan nama komunitas masyarakat yang bertebaran di sepanjang pulau sumatera.
            Berangkat dari fakta ini. ada kemungkinan kalau yang kita maksudkan dengan orang Minang adalah orang yang pertama mendiami wilayah ini, maka tentunya suku Melayu ini paling berhak dinamakan dengan Masyarakat atau komunitas Minang yang meliputi masyarakat melayu Palembang dan lainnya. Namun kalau yang kita maksudkan itu yang dikatakan Minang itu adalah kelompok rombongan Maharajo Dirajo, maka telah terjadi pada waktu itu dominasi politik dan kekuasaan dari kelompok Maharajo Dirajo kepada masyarakat pribumi waktu itu sehingga lahirlah suatu tatanan budaya dan tatanan social yang dimonopoli oleh kelompok Maharajo Dirajo.
            Hal ini didukung dengan uraian tambo bahwa ada dua keselarasan yang dibangun pada waktu itu yaitu keselarasan Bodi Chaniagonya Datuak Parpatiah dan Koto piliangnya Datuak Katumanggungan. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan suku Melayu? Tidak ditemukan bukti bahwa suku melayu adalah pecahan dari Bodi Chaniago atau pecahan dari Koto Piliang. Kesimpulan pertama adalah Suku Melayu adalah suku masyarakat asli yang sama dengan suku dan etnis lain di Nusantara ini seperti Melayunya masyarakat di sepanjang pulau Sumatera.
            Bangunan masayarakat minang bisa dimaknai dengan terbinanya kumunitas manusia secara hakiki dan juga bisa diartikan dengan munculnya sebuah gagasan perlunya terbentuk suatu tatanan nilai, budaya dan peradaban.
            Sulit melakukan rasionalisasi ilmiah tentang pelayaran Maharajo Dirajo dan rombongan yang berlayar, dilamun ombak hingga akhirnya tampak cahaya api yang berkedip yang kemudian setelah didekatai ternyata memang cahaya api yang berada di puncak gunung merapi. Akhirnya disebut asal orang Minang adalah dipuncak Gunung Merapi. Semakin tidak bisa dirasionalkan ketika ungkapan tambo itu dilanjutkan dengan “aia basentak turun dan langik basentak naik. Kenapa tidak dikatakan Bahwa asal mula Ninik orang Minang itu naik dari pesisir pantai dan terus mendaki ke daratan luhak dan ranah.
            Hal ini menghendaki suatu penafsiran tentunya. Secara ilmiah, proses kedatangan Maharajo Dirajo tetap mengikuti rute alamiah yaitu dari pesisir pantai terus menuju daratan ranah dan luhak. Karena dalam berita al-Qur’an banjir besar yang menyisakan puncak-puncak gunung Cuma terjadi satu kali yaitu dimasa banjirnya Nabi Nuh.
            Penafsiran ini akan terbantu dengan memberikan jawaban terhadap pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan titiak palito, apakah yang dimaksud dengan cahayo yang terpejam-pejam, dan apa yang dimaksud dengan gunuang Marapi?
B. Interpretasi Gurindam Tambo Tentang Asal Nininik Moyang Orang Minangkabau  Dalam Perspektif Islam

            Titiak Palito (titik cahaya pelita) adalah lambang dari ketersingkapan sebuah ide dan gagasan karena sifat utama ide itu adalah menerangi dan menunjuki seseorang di dalam kebuntuan ide atau ketidak tahuan. Titik pelita adalah awal atau tapal batas antara ketidak tahuan dengan pengetahuan, tapal batas antara keraguan dengan keyakinan dan kepastian.
            Telong nan batali adalah gumpalan awan kegelapan malam yang akan berganti dengan cerahnya mentari pagi. Cahaya pelita Matahari akan muncul ketika proses pergantian malam dengan siang telah berlangsung.
            Dari mano asa niniak kito. Niniak bermakna leluhur.   Bisa juga dimaknai dengan asal yang paling tua atau juga bisa diartikan dengan gagasan utama atau ide yang muncul pertama kali. 
            Puncak Gunuang Merapi. Secara harfiah puncak gunung merapi adalah bagian tertinggi dari gunung Merapi.  Interpretasi filosofisnya adalah gunuang merapi merupakan lambing dari gundukan segumpal daging yang vterdapat di dalam dada manusia. Inilah yang dinamakan dengan Hati.  Hati atau Qalb memiliki tiga fungsi yaitu fungsi Shadar, fungsi hawa, dan fungsi fu’ad.

  1. Spiritualitas Masayarakat Minang
  1. Spiritualitas Hindu Budha

Islam masuk ke Minangkabau pada abad VI…………
Dapat dipastikan sebelumnya masyarakat minang adalah masyarakat Hindu Budha[1]

  1. Spiritualitas Islam Masyarakat Minangkabau.
  1. Spiritualitas Sufistik
  2. Spiritualitas Rasional


  1. Refleksi Pembangunan Spiritualitas Masyarakat Minangkabu ke Depan.
           


[1] Lihat tambo…………….. 

MINANGKABAU; DULU DAN KINI

  1. Pendahuluan

Dimano asa titiak palito
Di baliak telong nan batali
Dari mano asa niniak kito
Di puncak Gunuang Marapi

            Untaian pantun indah di atas dapat ditemui dalam buku-buku gurindam adat dan Tambo Alam Minangkabau. Orang Minang me-ma’lum-kan dalam Tambonya bahwa ninik moyang mereka dinisbahkan kepada Alexander Agung penguasa dan penakluk dunia berkebangsaan Yunani yang di dalam al-Qur’an disebut dengan Iskandar Zulqarnain.
            Sebelum memaparkan penafsiran gurindam Tambo di atas penulis ingin menyatakan bahwa sangat sulit memastikan kebenaran kesamaan antara Alexandernya Orang Minang Zulqarnain dengan Zulqarnainnya penguasa bertauhid dalam al-Qur’an. Begitu juga dengan Maharajo Alif. Maharajo Dipang. Dan Maharajo Dirajo yang datang ke pulau Ameh Ranah Minang tercinta ini. Kesulitan ini dirasakan karena tidak adanya bukti sejarah yang jelas yang menhubungkan keduanya.
            Sebagaimana kebiasaan tradisi lisan masyarakat Minang yang tertuang dalam falsafah mereka “ Kok satititiak bapantang lupo, sabarih bapantang hilang, kato nan biaso bakieh, rundiang nan biaso bamisa”. Pepatah ini menggambarkan bahwa pemahaman tambo tentu tidak tepat kalau dibedah dengan pisau analisis ilmiah dan sejarah semata. Pemahaman tambo tentunya perlu ditempatkan pada medan bedah dengan menggunakan pisau dalam konteks kiasan dan perumpamaan.
            Tulisan ini mencoba memberikan satu bentuk penafsiran tambo yang tentunya sangat debatable. Ada kemungkinan kesamaan tokoh dalam babak kisah tambo terutama Zulqarnaini dengan tiga putranya yang dalam perkembangannya dari anak yang bungsu si Maharajo Dirajo yang kemudian memiliki pelanjut yang kita kenal dengan Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang yang dibangsakan dengan awal mula berdirinya kominitas orang Minang.
            Sebagaimana teori pembangunan masyarakat Ali Syari’ati yang menjadikan Hijrah sebagai tonggak terbinanya suatu masayarakt baru, hal ini pun bisa terjadi pada masyarakat Minang tempo dulu. Ini artinya kedatangan Maharajo Dirajo ke ranah Minang ini tidak tertutup kemungkinan bahwa daerah ini sudah didiami lebih duluan oleh komunitas masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan adanya suku yang bernama Melayu yang sama namanya dengan nama komunitas masyarakat yang bertebaran di sepanjang pulau sumatera.
            Berangkat dari fakta ini. ada kemungkinan kalau yang kita maksudkan dengan orang Minang adalah orang yang pertama mendiami wilayah ini, maka tentunya suku Melayu ini paling berhak dinamakan dengan Masyarakat atau komunitas Minang yang meliputi masyarakat melayu Palembang dan lainnya. Namun kalau yang kita maksudkan itu yang dikatakan Minang itu adalah kelompok rombongan Maharajo Dirajo, maka telah terjadi pada waktu itu dominasi politik dan kekuasaan dari kelompok Maharajo Dirajo kepada masyarakat pribumi waktu itu sehingga lahirlah suatu tatanan budaya dan tatanan social yang dimonopoli oleh kelompok Maharajo Dirajo.
            Hal ini didukung dengan uraian tambo bahwa ada dua keselarasan yang dibangun pada waktu itu yaitu keselarasan Bodi Chaniagonya Datuak Parpatiah dan Koto piliangnya Datuak Katumanggungan. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan suku Melayu? Tidak ditemukan bukti bahwa suku melayu adalah pecahan dari Bodi Chaniago atau pecahan dari Koto Piliang. Kesimpulan pertama adalah Suku Melayu adalah suku masyarakat asli yang sama dengan suku dan etnis lain di Nusantara ini seperti Melayunya masyarakat di sepanjang pulau Sumatera.
            Bangunan masayarakat minang bisa dimaknai dengan terbinanya kumunitas manusia secara hakiki dan juga bisa diartikan dengan munculnya sebuah gagasan perlunya terbentuk suatu tatanan nilai, budaya dan peradaban.
            Sulit melakukan rasionalisasi ilmiah tentang pelayaran Maharajo Dirajo dan rombongan yang berlayar, dilamun ombak hingga akhirnya tampak cahaya api yang berkedip yang kemudian setelah didekatai ternyata memang cahaya api yang berada di puncak gunung merapi. Akhirnya disebut asal orang Minang adalah dipuncak Gunung Merapi. Semakin tidak bisa dirasionalkan ketika ungkapan tambo itu dilanjutkan dengan “aia basentak turun dan langik basentak naik. Kenapa tidak dikatakan Bahwa asal mula Ninik orang Minang itu naik dari pesisir pantai dan terus mendaki ke daratan luhak dan ranah.
            Hal ini menghendaki suatu penafsiran tentunya. Secara ilmiah, proses kedatangan Maharajo Dirajo tetap mengikuti rute alamiah yaitu dari pesisir pantai terus menuju daratan ranah dan luhak. Karena dalam berita al-Qur’an banjir besar yang menyisakan puncak-puncak gunung Cuma terjadi satu kali yaitu dimasa banjirnya Nabi Nuh.
            Penafsiran ini akan terbantu dengan memberikan jawaban terhadap pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan titiak palito, apakah yang dimaksud dengan cahayo yang terpejam-pejam, dan apa yang dimaksud dengan gunuang Marapi?
B. Interpretasi Gurindam Tambo Tentang Asal Nininik Moyang Orang Minangkabau  Dalam Perspektif Islam

            Titiak Palito (titik cahaya pelita) adalah lambang dari ketersingkapan sebuah ide dan gagasan karena sifat utama ide itu adalah menerangi dan menunjuki seseorang di dalam kebuntuan ide atau ketidak tahuan. Titik pelita adalah awal atau tapal batas antara ketidak tahuan dengan pengetahuan, tapal batas antara keraguan dengan keyakinan dan kepastian.
            Telong nan batali adalah gumpalan awan kegelapan malam yang akan berganti dengan cerahnya mentari pagi. Cahaya pelita Matahari akan muncul ketika proses pergantian malam dengan siang telah berlangsung.
            Dari mano asa niniak kito. Niniak bermakna leluhur.   Bisa juga dimaknai dengan asal yang paling tua atau juga bisa diartikan dengan gagasan utama atau ide yang muncul pertama kali. 
            Puncak Gunuang Merapi. Secara harfiah puncak gunung merapi adalah bagian tertinggi dari gunung Merapi.  Interpretasi filosofisnya adalah gunuang merapi merupakan lambing dari gundukan segumpal daging yang vterdapat di dalam dada manusia. Inilah yang dinamakan dengan Hati.  Hati atau Qalb memiliki tiga fungsi yaitu fungsi Shadar, fungsi hawa, dan fungsi fu’ad.

  1. Spiritualitas Masayarakat Minang
  1. Spiritualitas Hindu Budha

Islam masuk ke Minangkabau pada abad VI…………
Dapat dipastikan sebelumnya masyarakat minang adalah masyarakat Hindu Budha[1]

  1. Spiritualitas Islam Masyarakat Minangkabau.
  1. Spiritualitas Sufistik
  2. Spiritualitas Rasional


  1. Refleksi Pembangunan Spiritualitas Masyarakat Minangkabu ke Depan.
           


[1] Lihat tambo…………….. 

MINANGKABAU; DULU DAN KINI

  1. Pendahuluan

Dimano asa titiak palito
Di baliak telong nan batali
Dari mano asa niniak kito
Di puncak Gunuang Marapi

            Untaian pantun indah di atas dapat ditemui dalam buku-buku gurindam adat dan Tambo Alam Minangkabau. Orang Minang me-ma’lum-kan dalam Tambonya bahwa ninik moyang mereka dinisbahkan kepada Alexander Agung penguasa dan penakluk dunia berkebangsaan Yunani yang di dalam al-Qur’an disebut dengan Iskandar Zulqarnain.
            Sebelum memaparkan penafsiran gurindam Tambo di atas penulis ingin menyatakan bahwa sangat sulit memastikan kebenaran kesamaan antara Alexandernya Orang Minang Zulqarnain dengan Zulqarnainnya penguasa bertauhid dalam al-Qur’an. Begitu juga dengan Maharajo Alif. Maharajo Dipang. Dan Maharajo Dirajo yang datang ke pulau Ameh Ranah Minang tercinta ini. Kesulitan ini dirasakan karena tidak adanya bukti sejarah yang jelas yang menhubungkan keduanya.
            Sebagaimana kebiasaan tradisi lisan masyarakat Minang yang tertuang dalam falsafah mereka “ Kok satititiak bapantang lupo, sabarih bapantang hilang, kato nan biaso bakieh, rundiang nan biaso bamisa”. Pepatah ini menggambarkan bahwa pemahaman tambo tentu tidak tepat kalau dibedah dengan pisau analisis ilmiah dan sejarah semata. Pemahaman tambo tentunya perlu ditempatkan pada medan bedah dengan menggunakan pisau dalam konteks kiasan dan perumpamaan.
            Tulisan ini mencoba memberikan satu bentuk penafsiran tambo yang tentunya sangat debatable. Ada kemungkinan kesamaan tokoh dalam babak kisah tambo terutama Zulqarnaini dengan tiga putranya yang dalam perkembangannya dari anak yang bungsu si Maharajo Dirajo yang kemudian memiliki pelanjut yang kita kenal dengan Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang yang dibangsakan dengan awal mula berdirinya kominitas orang Minang.
            Sebagaimana teori pembangunan masyarakat Ali Syari’ati yang menjadikan Hijrah sebagai tonggak terbinanya suatu masayarakt baru, hal ini pun bisa terjadi pada masyarakat Minang tempo dulu. Ini artinya kedatangan Maharajo Dirajo ke ranah Minang ini tidak tertutup kemungkinan bahwa daerah ini sudah didiami lebih duluan oleh komunitas masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan adanya suku yang bernama Melayu yang sama namanya dengan nama komunitas masyarakat yang bertebaran di sepanjang pulau sumatera.
            Berangkat dari fakta ini. ada kemungkinan kalau yang kita maksudkan dengan orang Minang adalah orang yang pertama mendiami wilayah ini, maka tentunya suku Melayu ini paling berhak dinamakan dengan Masyarakat atau komunitas Minang yang meliputi masyarakat melayu Palembang dan lainnya. Namun kalau yang kita maksudkan itu yang dikatakan Minang itu adalah kelompok rombongan Maharajo Dirajo, maka telah terjadi pada waktu itu dominasi politik dan kekuasaan dari kelompok Maharajo Dirajo kepada masyarakat pribumi waktu itu sehingga lahirlah suatu tatanan budaya dan tatanan social yang dimonopoli oleh kelompok Maharajo Dirajo.
            Hal ini didukung dengan uraian tambo bahwa ada dua keselarasan yang dibangun pada waktu itu yaitu keselarasan Bodi Chaniagonya Datuak Parpatiah dan Koto piliangnya Datuak Katumanggungan. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan suku Melayu? Tidak ditemukan bukti bahwa suku melayu adalah pecahan dari Bodi Chaniago atau pecahan dari Koto Piliang. Kesimpulan pertama adalah Suku Melayu adalah suku masyarakat asli yang sama dengan suku dan etnis lain di Nusantara ini seperti Melayunya masyarakat di sepanjang pulau Sumatera.
            Bangunan masayarakat minang bisa dimaknai dengan terbinanya kumunitas manusia secara hakiki dan juga bisa diartikan dengan munculnya sebuah gagasan perlunya terbentuk suatu tatanan nilai, budaya dan peradaban.
            Sulit melakukan rasionalisasi ilmiah tentang pelayaran Maharajo Dirajo dan rombongan yang berlayar, dilamun ombak hingga akhirnya tampak cahaya api yang berkedip yang kemudian setelah didekatai ternyata memang cahaya api yang berada di puncak gunung merapi. Akhirnya disebut asal orang Minang adalah dipuncak Gunung Merapi. Semakin tidak bisa dirasionalkan ketika ungkapan tambo itu dilanjutkan dengan “aia basentak turun dan langik basentak naik. Kenapa tidak dikatakan Bahwa asal mula Ninik orang Minang itu naik dari pesisir pantai dan terus mendaki ke daratan luhak dan ranah.
            Hal ini menghendaki suatu penafsiran tentunya. Secara ilmiah, proses kedatangan Maharajo Dirajo tetap mengikuti rute alamiah yaitu dari pesisir pantai terus menuju daratan ranah dan luhak. Karena dalam berita al-Qur’an banjir besar yang menyisakan puncak-puncak gunung Cuma terjadi satu kali yaitu dimasa banjirnya Nabi Nuh.
            Penafsiran ini akan terbantu dengan memberikan jawaban terhadap pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan titiak palito, apakah yang dimaksud dengan cahayo yang terpejam-pejam, dan apa yang dimaksud dengan gunuang Marapi?
B. Interpretasi Gurindam Tambo Tentang Asal Nininik Moyang Orang Minangkabau  Dalam Perspektif Islam

            Titiak Palito (titik cahaya pelita) adalah lambang dari ketersingkapan sebuah ide dan gagasan karena sifat utama ide itu adalah menerangi dan menunjuki seseorang di dalam kebuntuan ide atau ketidak tahuan. Titik pelita adalah awal atau tapal batas antara ketidak tahuan dengan pengetahuan, tapal batas antara keraguan dengan keyakinan dan kepastian.
            Telong nan batali adalah gumpalan awan kegelapan malam yang akan berganti dengan cerahnya mentari pagi. Cahaya pelita Matahari akan muncul ketika proses pergantian malam dengan siang telah berlangsung.
            Dari mano asa niniak kito. Niniak bermakna leluhur.   Bisa juga dimaknai dengan asal yang paling tua atau juga bisa diartikan dengan gagasan utama atau ide yang muncul pertama kali. 
            Puncak Gunuang Merapi. Secara harfiah puncak gunung merapi adalah bagian tertinggi dari gunung Merapi.  Interpretasi filosofisnya adalah gunuang merapi merupakan lambing dari gundukan segumpal daging yang vterdapat di dalam dada manusia. Inilah yang dinamakan dengan Hati.  Hati atau Qalb memiliki tiga fungsi yaitu fungsi Shadar, fungsi hawa, dan fungsi fu’ad.

  1. Spiritualitas Masayarakat Minang
  1. Spiritualitas Hindu Budha

Islam masuk ke Minangkabau pada abad VI…………
Dapat dipastikan sebelumnya masyarakat minang adalah masyarakat Hindu Budha[1]

  1. Spiritualitas Islam Masyarakat Minangkabau.
  1. Spiritualitas Sufistik
  2. Spiritualitas Rasional


  1. Refleksi Pembangunan Spiritualitas Masyarakat Minangkabu ke Depan.
           


[1] Lihat tambo…………….. 

SILAT TRADISIONAL MINANGKABAU
Pengaruh dan pengembangannya terhadap kebudayaan nasional
Oleh :  Drs. Syafruddin Sulaiman
I. pengantar
Berbicara tentang topic di atas adalah sangat riskan karena di tengah-tengah perhatian masyarakat kita terhadap silat saat ini yang mulai pudar dan sirna. “lalu apakah yang dapat kita perbuat ?”. suatu pertanyaan, yang gaungnya seakan-akan jatuh ke dalam atau tak berpitunanng (bertenaga) untuk menjawabnya.
            Sementara itu, budaya asing secara pasti dan tidak henti-hentinya masih terus merambah dan meluluhlantakkan budayakita yang kono kabarnya tak lapuk dek hujan, tak lakang dek paneh. Contoh konkret yang dikemukakan oleh tokoh kita Lukman Harun yang disinyalir dan dilangsir dalam harian Singgalang salam beberapa waktu yang lalu adalah penyediaan rumah tinggal ( home stay) berbiaya murah untuk turis asing ( turis local keasing-asingan ?) berkumpulkebo (adugundu) di Maninjau. Dengan kata lain, dipelupuk mata kita.
            Contoh lain, yang sifatnya sederhana adalah tentang baju kurung rang gadih minangkabau nan spesifi itu :
            Onde…onde…sibajulah kuruang
            Yo bana rancak baju kuruang rang koto gadang
            Sanbanyo lamak …budinyo rancak…dst…
Mungkin lirik lagu di atas telah terlupakan, atau telah menyilih (berganti baju) dengan rock, disko, dangdut, dsbnya. Dimankah hutan rimbanya sekarang tempat rang gadih kita yang berbaju kurung spesifik itu?. Saya pribadi, mungkin juga kita semua sangat rindu. Karena yang tampak sekarang semua anak kemenakan kita telah bercelan jeans dan berbaju oblong. Mungkin juga tanpa Bra. Tidak perlu rabab menyampaikannya lagi, karena sudah terlalu jelas : lah basuluoh matohari, lah bagalanggang mato rang banyak, indak basuluah batang pisang lai. Kalau pun toh ada yang berjilbab, tapi tidak bernuansa Minangkabau lagi, dan lebih banyak berpasangan di tepi pantai  sampai larut malam.
            Dua contoh tersebut, telah menjadi saksi bahwa keminangkabau  kita telah berubah mungkin telah mewndekati titik kritis : jalan mungkin telah dianjak urang lalu, cupak mungkin lah diubah rang panggaleh, kita takut, lama-kelamaan Minang kita akan tergadai atau terjual, tinggalah kabaunya saja lagi. Bukan kita tidak setuju perubahan itu, tapi yang positiflah, jangan negative.
            Lantas, apa hubungannya dengan pencak silat? Pencak Silat adalah kebudayaan kita yang membudaya pada masa lalu, dan kini tengah tergiling. Upaya apakah untuk mencekalnya (cegah tangkal) agar tidak terguling ? beberapa pokok pikiran berikut akan mencoba menjelaskannya.

I.I Silat Masa Lalu
            Silat masa lalu adalah bagian dari kehidupan (budaya) kita. Jika kita pantau jauh kebelakang asal-muasal lahirnya silat (zaman saisuak) telihat dari tata-cara manusia mempertahankan diri. Dalam hidup, manusia butuh makan dalam mempertahankan diri dari lapar, butuh bela diri/ silat, untuk menghadapi serangan phisik, dan butuh obat jika sakit, sakit dalam kontek yang lebih jauh/ luas dapat berarti kekosongan rohani. Artinya butuh pegangan hidup, misalnya : agama, kepercayaan, paham, dsbnya. Ketiga faktor di atas harus sama dan sehubung dalam arti saling menunjang antara satu dengan yang lainnya. Ketiga faktor di atas merupakan modal dasar bagi manusia untuk menapak jenjang karir menuju tangga kesuksesan lebih  lanjut.
            Silat tradisional Minang yang masih asli (yang belum diselewengkan) menempa manusia berbudi pekerti yang baik : tidak menonjolkan diri/ sombong, membelah kebenaran, tidak penakut, musuah indak dicari, batamu pantang diilakkan, barani larano bana, takuik karano salah.
            Oleh sebab itu, apabila kita mendengan perkataan guru silat dalam konteks masa lalu, maka yang muncul perasaan segan dan hormat. Tapi kalau kita mendengar perkataan pelatih silat kuntau, karate, dan sebagainya terbayang  kekerasan dan kekuatannya. Adalah sangat wajar , pada masa lalu kita mendengar anak-anak silat bergotong-royong membantu guru silat di sawah atau di ladang tanpa pamrih (diupah). Tapi pada bela diri yang lain mungkin hal itu tidak akan terjadi, karena semuanya itu diukur dari kacamata yang berbeda.
            Jadi, amatlah wajar kalau pada masa lalu  pesilat-pesilat yang berisi itu adalah para ulama, niniak mamak/ penghulu, cerdik pandai, dan sebagainya, karena mereka telah berpaham. Sedangkan anak kemenakan di Minangkabau harus juga memiliki silat dalam arti sekedar palapehan kabek sajo, artinya, belum berisi secara rohaniah maupun batin. Karena mereka masih lajang maupun parewa., remaja/ lajang, belum lagi mamutiuh ( sempurna). Namun, di antara sekian  banyak ada satu, dua yang mamutuih.
            Silat pada maa lalu diajarkan pada malam hari di saat suasana masih hening dan sepi. Pada saat itu tingkat konsentrasi sangat tinngi, disamping juga merupakan usaha penyatuan dengan alam serta mempertajam mata dan insting. Disebabkan kondisi cahaya yang terbatas (sabur-sabur gelap). Jika pesilat sudah piawai dalam kondisi sabur-sabur tersebut, tentu dalam kondisi siang, baginya merupakan kaji yang manurun (mudah). Tapi ingat, silat tradisional bukan untuk ditonjol-tonjolkan.
            Dalam kehidupan sehari-hari masa lalu, orang Minang yang tidak pandai bersilat biasanya tidak masuk etongan (perhitungan), seperti mentimun bungku masuk karung ada tapi tidak dihitung. Biasanya orang seperti ini menjadi abuan kaki (tumpuan kaki) teman-temannya yang baru belajar silat. Namun, hal ini tidak akan berlangsung lama, karena mereka yang merasa menjadi abuan kaki, akan belajar silat pula untuk mengatasi teman-temannya sehingga mereka menjadi sama-sama lihai. Jadi, silat pada masa lalu di Minangkabau merupakan harga diri yang tidak dapat diago-ago (ditawar-tawar). Bagian dari kehiduopan, misalnya kalau akan pergi merantau, kawin, berniaga, dan sebaginya, harus pandai bersilat.
III. Silat Masa Kini
            Silat tradisional Minangkabau masa kini berada di persimpangan jalan (lihat makalah saya pada seminar sehari silat tradisional Minangkabau dan temu Pesilat Se-Sumatra Barat , diadakan  Pendekar Unand, 8 Juli 1993). Artinya, silat itu tercerabut dari akar budayanya diakibatkan kemajuan media massa yang semakin canggih yang terus-menerus memasok (surplai) budaya asing secara dominan. Anak-kemenakan kita mulai gandrung terbahadap budaya tersebut tanpa memilih-milih baik buruknya.
            Kita melihat sekarang sasarn-sasaran silat sekarang seakan-akan kehabisan nafas. Kalau suatu saat dia dibutuhkan untuk konsumsi tamu asing misalnya, maka dia diburu kemana-mana di pelosok-pelosok desa sehingga dia dapat bernapas lagi. Tapi jika tamu asing itu pergi  maka napasnya mulai Senin-Kamis lagi.
            Padahal kalau kita tahu bahawa silat Miangkabau bukanlah sekedar pajangan saja tetapi lebih inti dan hakiki: Dia memupuk budi pekerti yang tinggi, menempa mental (jiwa /rohani), yang akhirnya menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi di dalam mengharuni kehidupan yang penuh onak. Ini jelas, akan berpengaruh kepada visi maupun kurenah orang Minang berkiprah secara nasional ataupun mendunia. Banyak orang Minang yang  berhasil, baik sebagai negarawan, polotikus, pedagang, dan sebagainya yang berhasil di daerah rantau, yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh visi tadi. Mungkin oarang Minang itu tidak pandai bersilat lagi, tapi kalau ditelusuri lebih jauh susuk jeraminya (asal muasal) moyangnya pasti berasal dari guru silat juga. Jadi yang berkembang kemudian adalah motivasi jiwa atau mental percaya diri pesilatnya. Jelas hal ini sangat berharaga untuk dikembangkan dalam konteks budaya yang lebih luas baik secara nasional maupun mendunia.
IV. Silat Masa Depan
            Silat dalam konteks ini lebih bersifat konsep pemikiran guna pelestarian dan kreatifitas dalam rangka pengembangan dan sumbangan kepada budaya nasional maupun dunia.
1. Pelestarian
            silat tradisional Minangkabau mau tidak mau harus dilestarikan karena dia merupakan jati diri Minangkabau ayng mempunyai kans  dalam memupuk mental, baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional.
            Dalam pelestariannya perlu sekali turun tangan pemerintah daerah dalam hal ini gubernur beserta seluruh jajarannya baik secara vertikal maupun horizontal dalam membina silat tradisional dalam bentuk manajemen baru. Tidak hanya sekedar diburu ajar promosi yang temporer saja. Upaya yang dapat dilakukan adalah:
A         Membantu secara moral maupun finansial dalam rangka menghirup suburka saran-saran silat tradisional secar rutin dan terpantau sehinggga dia dapat mendiri, menjadi padepokan-padepokan khas Minangkabau.
B         Menceritakan Bapak Angkat, dan ajang promosi pariwisata, serta orang asing yang berminat belajar silat. Karena oarang asing (barat) adalam belajar beladiri selalu menoleh kedunia timur.
C.        Memasukan silat kedalam kurikulun Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan dalam membina mental, olah raga dan cinta budaya.
Dalam tahap awal jelas akan mengeluarkan banyak dana dan pemikiran tetapi kalau sudah terpola dan mandiri justru akanmenambah penghasilan masyarakat maupun pemerintah, warna Minangkabau akan lebih kontras lagi.
2. Krearivitas
            Di dalam membina silat sebagai ajang kreativitas dapat dilaksanakan upaya berikut :
·         Mendirikan labor silat
Di sini dibahas secara ilmiah: falsafah silat, jurus-jurus silat, dipelajari unsur keunggulan dan kelemahannya dari bermacam-macam sudut pandang keilmuan, misalnya: kesehatan, kebugaran, olahraga, paranormal dan sebagainya. Diharapkan silat menjadi beladiri yang tangguh dan mempunyai nialai tambah yang bermanfaat bagi kehidupan. Para pakar berbagai disiplin ilmu diharapkan terlibat di lembaga ini.
·         Sebagai Kreatifitas Seni
Dasar-dasar jurus silat dapat dikembangkan dalam bentuk seni tari seperti yang telah dikembangkan koreografer Gusmiati syuib, Boi G. Sati didalam beberapa karyanya. Banyak lagi jurus-jurus silat yang belum terjamah. Dalam seni patung, seni lukis, teater dan sebagainya semuanya ini dapat diolah , tergantung kreatifitas.
·         Bersilat lidah / Diplomasi
Silat dalam benmtuk intelektual maupun bathin yang muncul kepermukaan dalam seni berbahasa maupun sastra, jelas sangat bermanfaat sekali bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Orang Minag yang sudah sejak lama terkenal pandai berbicar dari bahasa kiasan: pepatah- petitih, pantun, sampai kepada dunia diplomasi dan politik. Inipun sangat perlu ditumbuhkembangkanmelalui lembaga pendidikan terkait, kita masih ingat nama-nama besar : M.Nasir, Hamka, Moh. Hatta, Adam Malik, Harun Zain, Marah Rusli, dan sebagainya.

Semua butir yang dikemukakan adalah merupakan butir-butir berharga dalam mempertahankan ketangguhan budaya Minangkabau sekaligus memperkuat budaya nasional. Sebab budaya Nasional merupakan puncak-puncak budaya daerah yang nasional. Tapi bagaimanapun perlu ditegaskan secara tuntas di sini kemahiran bela diri secara fisik saja tidaka akan berarti apa-apa kecuali  kalau sudah dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan lain yang bernas.
.V. Penutup
            Dengan demikian dapat ditarik dan dapat disimpulkan garis besar bahwa silat tradisional perlu dilestarikan dan dijaga kesinambungannya melalui program terarah, sistematis, kreatif, dan terpantau. Hal ini sangat perlu dalam mempertahankan jati diri keminangkabauan, sekaligus dapat dijadikan tonggak budaya nasional yang menimbulkan kebanggan nasional yang tangguh. Silat tradisional yang asli maupun yang telah terjamah kreatifitas sama-sama potensial untuk konsumsi pariwisata dan menambah income masyarakat.


Silat Tradisional Minangkabau
Pengaruh dan pengembangannya terhadap kebudayaan nasional
Bandingan atas makalah yang disajikan oleh sdr. Syafruddin Sulaiman, dengan judul seperti diatas.
Oleh: Emral Djamal DT. Rajo Mudo
I.
Membaca judul dari topik yang disajikan oleh pemakalah tanpa memperhatikan, apakah judul itu datang dari panitia pelaksana seminarn atau dari sipemakalah sendiri. Terlebih dahulu saya ingin mengaris bawahi sebagai catatan tentang judul itu sendiri dalam hal pemakaian istilahL Silat Tradisional Minangkabau
            Seperti diketahui bahwa disamping istilah silat, juga ada istilah lain, yaitu pencak. Kedua kata tersebut adalah istilah Minangkabau. Dalam makalah ini hanya dipakai istilah silat dengan meninggalkan pencak. Apakah disengaja bahwa yang akan dibicarakan disini hanya silat saja tanpa menyebut pencak atau memang sama pengertiannya silat dengan pencak sihingga disebut saja salah satu diantara keduanya ? kemudian tentang pemakaian istilah tradisional apakah kita masih perlu mencantumkan istilah tradisional di belakang kata/ istilah yang sebenarnya memang sudah tradisional? Misalnya mengapa kita tidak menyebut saja sebagai pencak atau silat Minangkabau, atau pencak silat Minangkabau? Karena pencak silat di Minangkabau sudah menyatakan suatu tradisi. Barangkali kita sendiri yang belum memahami atau belum bersepakat. Tentang pengertian kedua istilah itu. Seperti yang sering kita dengar tentang komentar-komentar selama ini dalam kegiatan penampilan-penampilan pencak silat seperti : “ itu bukan silat, tapi pencak namanya” dan tidak bisa dipertontonkan, apalagi untuk dibicarakan “. Itu dulu, dalam masa 10-15 taun kebelakang, setidak-tidaknya dari apa yang pernah saya alami, dan saya dengar. Namun sekarang sejak beberapa tahun terakir ini telah mulai ada keterbukaan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa hal-hal seperti itu masih ada, namun saya berharap mudah-mudahan tidak.
            Saya tidak akan menguraikan lebih panjang tentang hal ini, untuk tidak lari dari permasalahan pokok, sesuai dengan tugas yang diberikan Panitia seminar kepada saya, sebagai pembanding makalah.
            Hanya saja sebagai patokan umum perlu saya jelaskan disini pengertian yang saya ambil dari catatan Penataran Tingkat Nasional  Pencak Silat Seni dan Beladiri sebagai salah seorang dari dua orang yang ikut sebagai peserta utusan Sumatra Barat, tanggal 4-8 Mei 1992 yang lalu, di Jakarta. Menurut catatan IPSI, penggabungan kata pencak dan silat menjadi kata kata majemuk untuk pertama kalinya dilakukan pada waktu dibentuknya suatu organisasi persatuan dari perguruan pencak  dan perguruan silat di Indonesia, yang diberi nama Ikatan pencak Silat Indonesia, disingkat IPSI, pada tahun 1948 di Surakarta. Dan sejak saat itu pencak silat menjadi istilah resmi di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, untuk merujuk kepada ilmu pengendalin jurus  bela diri, seni dan olah raga beserta falsafahnya yang berlandaskan nilai-nilai serta kaidah-kaidah agama dan moral yang  dijunjung tinggi oleh masyarakat pribumi  Indonesia khususnya, Asia Tenggara umumnya, sebagai satu kesatuan.
            Disamping itu juga dijelaskan bahwa pencak dan silat mempunyai pengertian yang sama dan merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat pribumi Asia Tenggara, yakni kelompok masyarakat etnis yang merupakan penduduk asli negara-negara di kawasan sia tenggara, yakni : Brunei Darussalam, Fhilipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, dan Thailand (bagian selatan).
            Bagaimana dengan Minangkabau ? Minangkabau Sumatra Barat yang dikenal sebagai ; “Negeri Ibu “. Sumber asal pencak silat? Inilah, barangkali kekaburan nilai-nilai Adat dan budaya Minangkabau, setidak-tidaknya untuk sebuah istilah pencak silat, kita belum mampu untuk merumuskannya. Barangkali hari ini diseminar ini.
            “Lalu apakah yang dapat kita perbuat? Suatu pertanyaan yang gaungnya seakan-akan jatuk ke dalam atau tak berpitunang (bertenaga) untuk menjawabnya”. Demikian, sebuah pertanyaan yang menggelitik dan mendirikan bulu roma dilontarkan oleh pemakalah. Tepat sekali. Karena salah-salah pertanyaan ini bisa membuat kita patah ! menyerah kepada nasib. Namun itu adalah kenyataan.  Lah basuluah matoari, bagalanggan mato rang banyak, bahwa “nuansa” keminangkabauan itu telah n\berubah dan mungkin mendekati kritis. Demikian disampaikan oleh Pemakalah. Kalau demikian, dan kalau memang : “Jalan di aliah urang lalu, sukek di anjak urang panggaleh”, kenapa kita tidak ingat “pasan pitaruah” Mande dalam amanahnya kepada si “Bujung” ? “kok waang pa-i marantau Bujuang, ingek-ingek pasan mande :
“Mamak cari, induak samang cari, Induak samang cari dahulu,
Mandi di baruah-baruah, bakato dibawah-bawah, tapi
kok lantak pasupadan dialek urang lalu,
sekek dianjak urang panggaleh,
busuang dado waang, Bujuang !
antakan kato ka nan bana,
angok sacuik ka pulang juo”.
           
            Kalau tidak demikian, maka pertanyaan seperti yang di sampaikan oleh Pemakalah tanpa : ditungkuik tilantangkan dalam parambunan siang jo malam” maka jawabannya adalah apa yang di pituahkan dalam nilai-nilai ajaran langkah Silat Minang yang terdiri dari : 1. Langkah Ibu (Mande)
                             2. Langkah Bapak (Ayah)
                             3. Langkah Mamak (Guru)
                             4. Langkah Takdir (Nasib).
            Yaitu memakai ajaran Langkah Takdir sebagai langkah akhir, penyerahan diri pada nasib, yang menurut pituah nan Tuo-Tuo hanya boleh dilaksanakan pada : “sesaat nyawa kapadam, sesaat buruang ka tabang, sacakuak pisau di lihie, sinan takadie manantukan  banamo sabab : bela diri “
Juga seperti apa yang disiratkan dalam pantun berikut :
“ Turun nan dari gunuang tujuah, andak manjalang Lintau Buo,patah sayok batungkek paruah, nan bana di tagakkan juo”.
Karena itu bagi saya, “ nuansa” keminangkabauan yang dicemaskan itu sebenarnya tidak pernah hilang. Ia tetap ada, hidup dan berdiri sendiri, karena “bana”.
Oleh sebab itu kita tidak perlu risih dengan ‘urang panggaleh” dan tidak perlu takut dengan “urang lalu”, kalau kita memang merasa memiliki, nilai-nilai keminangkabauan itu dari kulit sampai isi, dari awal sampai akhir luar  dalam, lahir dan bathin.
Itulah sebabnya saya katakan bahwa Minangkabau itu sendiri sebenarnya tak pernah kritis, ia ada dan utuh. Kokoh seperti Merapi, Singgalang, Tandikat, Gunung Sago dan Gunung Talang. Ia hadirdalam kehidupan itu sendiri. Karena itulah kita menoleh kebelakang, kepada Silat Masa lalu : seperti yang disampaikan oleh pemakalah pada bagian dua makalahnya.

II.
            Mundur selangkah tidak berarti kalah, “tatumbuak biduak dikelokkan”, kembali kelangkah mamak/ guru, kembali ke sasaran, kembali ke tapian, kembali ke surau, kembali ke perguruan. Itulah ajakan yang tersirat disampaikan pemakalah dalam uraiannya pada bagian ke dua yang saya sangat sependapat sekali dengan pemakalah.
III.

            Lantas, apakah sebenarnya yang terjadi dengan perkembangan dan kehidupan pencak silat Minangkabau itu sekarang ? juga tentang adat dan budaya Minangkabau lainnya? Menurut saya bukan dipersimpangan jalan atau tercabutdari akar budayannya, tidak. Tapi yang terjadi adalah ketirisan  dan indak balaki. Istilah ketirisan dan indak balaki yang dimaksud ini harus dilihat dari 3 sudut pandang , untuk dapat menangkap makna,  dari fenomena kemisterian Minangkabau dulu dalam ajaran-ajaran adatnya. Ia tidak mudah untuk dapat ditangkap makna lahirnya saja, karena pengertian itu harus mencakup penelusuran makna: tersurat, tersirat, tersuruk, dari petuah adat tentang : “rumah gadang katirisan” dan “ gadih gadang Indak Balaki”. Rumah gadang sebagai induk kehidupan korong kampung, pusat-pusat penyimpanan dai perbendaharaan pranata-pranata adat yang  di sekitarnya memiliki suraun gelanggang dan pamedanan, ternyata sudah lapuk, dan perlu “dikajangi” dari ketirisan budaya lain.
            Gadih gadang, putri cantik, putri panjang rambuik, lambang kesuburan dan keilmuan di Minangkabau, tidak lagi diminati para lelaki, akhirnya tidak punya turunan. Tidak punya anak sehingga melahirkan generasi-generasi pewaris yang akan menolong pusaka keminangkabaun itu. Tak ayal lagi kalau pemakalah mengatakan bahwa bisa-bisa  keilmuan Minangkabau ini., khususnya melalui pencak silat Minangkabau ini.

IV.

Anak mudo atau urang mudo nagari, baik yang tinggal di nagari maupun yang berada di perantauan karena urusan-urusan pendidikan dan kehidupan, secara orang perorang barangkali tidak diragukan lagi kualitas dan kredibilitasnya di tengah masyarakat lingkungan diman ia berada, dan selalu  mancigokkampuang. Namun banyak yang lenyap  dalam pandangan nagari karena rasa cintanya kepada nagari menjadi pudar. Apakah generasi muda nagari ini tak mau berbuat sesuatu ? pada hal mereka cukup potensial dan memiliki cita ideal bagi pembangunan nagarinya. Masih ingin berbuat dan berbuat . Itulah jawab dan harapan mereka. Ada yang putus rasanya kalau memamng ada yang patah, lesu darah dan kehilangan motifasi atau semacam kejenuhan barang kali. Sementara kehidupan mendesak hari-hari yang bersimbah peluh untuk menegakkan gantang.
Pada hal sebuah perjalan panjang dari kehidupan anak manusia Minangkabau dibawah kepemimpinan Ninik-ninik mereka dahulu dari Pariangan Padang Panjang  diseputar  pinggang Gunung Merapi telah melahirkan konsep hidup yang melahirkan konsep hidup yang kemudian dikenal sebagai suatu kesatuan wilayah adat dalam sistem kekerabatan bakorong bakampuang dalam nagari, yang karenanya setiap masalah dengan sendirinya tidak dapat dilepaskan dari tinjauan dan pandangan yang mempertimbangkan hubungan kekerabatan orang perorang. Menurut latar kesatuan genalogis yang menjadi corak adatnya. Bervariasi dari lingkungan tempat tumbuh, sebagai dikatakan dalam pituah adat: lain lubuak lain ikannya, lain padang lain belalangnya. Inilah lagam kehidupan Minangkabau. Diperoleh dari kemampuan dan ketingian nilai-nilai pencak silat Minagkabau. Karena mereka, ninik mamak kita itu telah mampu melahirkan kemampuan pencak silat yang tinggi, yang diaktakan seabagai: basilek dipangka karih, maniti diujuang padang.
Inilah mengantrakan masyarakat nagari Minagkabau pada zamanya tumbuah dalam kesatuan yang kokoh, karena mufakat yang diambilnya untuk menjawab tantangan dan kepentingan masrakat teritorialnyajauh memandang kedepan ( pandangan yang lahir bathin dengan kemampuan-kemampuan bashirah-Nya ) dengan kaitan dan kewajiban memelihara keturunan manusia bersama “sako” dan “pusako” dalam lingkup nan budi barago in bisa terlaksana karena ninik-ninik kita itu mengerti dan mengenal baik nilai-nilai kaidah-kaidah pencak silat yang menjadi dasar konsep dasar jati diri mereka, yang walaupun setitik yang telah lautkan, yang walaupun sekepal yang telah mereka gunungkan.
Itulah “tenunan” yang diharapkan menjadi “jalinan” hubungan silatturahmi masyarakat Minagkabau yang dinamis antara sesama isi alam, isi nagari, antara lapisan masyarakat, yang membawa kearah stabilitas kerukunan dan keamanan unutk melahirkan kemampuan-kemampuan kecerdasan dan ketagwaan dalam proses kreatifitas yang dikembangkannya
Buakan hanya “ sekedar menengakan gantang” yang salah bisa “ membelakangkan kita ke langit”                       
V.
            Sebuah olok-olok surau dikampung saya mengatakan : “Ada yang takut mati, karena orang Bayang matinya menelungkup, tapi si Bujang sanamo” pergi mudik , mendaki tempat yang tinngi, untuk mencari kerbaunya yang lepas kehilir. Mutiara kehidupan rang mudo nagari yang sangat berkesan, bila mau memaknainya lebih dalam, karena ia adalah filosofi silat Minangkabau.
            Dalam sebuah puisi saya yang dimuat di harian-harian daerah ini/ harian Singgalang, Haluan dan semangat beberapa tahun yang lalu  ada bait yang pantas saua tuliskan disini , yakni:
“ haruskah meninggalkan negeri ini ? lalu meneropong dari pilar bersimpul indah, mematut munngu yang benah bagai bulan dan matahari, atau luluh rantau, lahirkan bayi-bayi telanjang mengeak didera masa tanpa kain pembadung di tubuh ? bako tak membawanya lagi turun mandi. Ayah yang ngilu menatap bayi-bayi . masihkah sekarang ada mamak ? (tempat berguru dan bertanya). Si bujang balun termangu dalam tanda tanya. Ular mayang-mayang mengelimantang menatap cakrawala.
Inilah ratok, tantangan dan harapan. Tanpa mengenal riwayat dan kehidupan pencak silat nagari yang menjadi inti budaya dan adat Minang. Kita takkan mewarisi apa-apa dari nilai-nilai yang dipeturunnaikkan Ninik Moyang Minangkabau yang tersimpul dalam satu ungkapan sebagai: budi baik baso katuju, sanang urang sanagari.
            Harapan dan keinginan untuk menggali kembali nilai-nilai adat dan budaya nagari melalui kehidupan dan pengembangan pencak silat Minangkabau, sasaran dan tapian dan mewariskannya kepada generasi-generasi penerus aka memberi arti dalam kehidupan budaya daerah, bangsa dan negara. Memberi harapan dalam membentuk rasa kesatuan dan persatuan yang kokoh dan kuat. Sehingga daya juang untuk membangun nagari, daerah, bangsa dan negara dalam segala aspek tumbuh dengan percepata.
            Karena kesinambungan tuntunan dalam pencak silat sebenarnya mencakup seluruh nilai-nilai kehidupan. Pencak silat tidak hanya sekedar persoalan phisik, jasmani, tetapi juga rohani. Dengan perkataan lain pencak silat Minangkabau tidak hanya dirumuskan dalam nilai-nilai tajam duniawi dan sorgawi tetapi juga mencakup nilai-nilai ragawi dan fikri, yang “salah basapo, batuka asak”. “nan kuriak kundi, nan merah sago, nan baik budi nan indah baso, tuo dipamulie, ketek dikasihi, gadang dihormati, samo gadang bao baio. Iduik baradaik, mati nan baibadaik”.
Tidaklah mudah untuk menghidupkannya kembali, namun itulah cita-cita. Memelihara dan menggali nilai-nilai budaya pencak silat Minangkabau untuk disumbangkan kekhasanah budaya nusantara, pengisi kehidupan berbangsa dan bernegara.
VI.

Akhirnya, kembali kepada masalah pokok yang menjadi topik makalah tentang “Pengaruh Dan Pengembangannya Terhadap Kebudayaan Nasional”. Saya tidak menggaris bawahi apa yang disampaikan oleh pemekalah, karena untuk daerah ini hal-hal seperti yang disampaikan pemakalah merupakan butir-butir berharga dan tak perlu diulas lagi.   
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Daily Video

About Me

Sekolahku
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2012 (4)
    • ▼  April (4)
      • MINANGKABAU; DULU DAN KINI Pendahuluan Dimano as...
      • MINANGKABAU; DULU DAN KINI Pendahuluan Dimano as...
      • MINANGKABAU; DULU DAN KINI Pendahuluan Dimano as...
      • SILAT TRADISIONAL MINANGKABAUPengaruh dan pengemb...
  • ►  2011 (13)
    • ►  Oktober (13)

Translate Blogger

Sponsor

Social Networks

More Blogger Templates...

2010 Molusco Orange 2.0
Designed by Templateezy