MINANGKABAU; DULU DAN KINI

  1. Pendahuluan

Dimano asa titiak palito
Di baliak telong nan batali
Dari mano asa niniak kito
Di puncak Gunuang Marapi

            Untaian pantun indah di atas dapat ditemui dalam buku-buku gurindam adat dan Tambo Alam Minangkabau. Orang Minang me-ma’lum-kan dalam Tambonya bahwa ninik moyang mereka dinisbahkan kepada Alexander Agung penguasa dan penakluk dunia berkebangsaan Yunani yang di dalam al-Qur’an disebut dengan Iskandar Zulqarnain.
            Sebelum memaparkan penafsiran gurindam Tambo di atas penulis ingin menyatakan bahwa sangat sulit memastikan kebenaran kesamaan antara Alexandernya Orang Minang Zulqarnain dengan Zulqarnainnya penguasa bertauhid dalam al-Qur’an. Begitu juga dengan Maharajo Alif. Maharajo Dipang. Dan Maharajo Dirajo yang datang ke pulau Ameh Ranah Minang tercinta ini. Kesulitan ini dirasakan karena tidak adanya bukti sejarah yang jelas yang menhubungkan keduanya.
            Sebagaimana kebiasaan tradisi lisan masyarakat Minang yang tertuang dalam falsafah mereka “ Kok satititiak bapantang lupo, sabarih bapantang hilang, kato nan biaso bakieh, rundiang nan biaso bamisa”. Pepatah ini menggambarkan bahwa pemahaman tambo tentu tidak tepat kalau dibedah dengan pisau analisis ilmiah dan sejarah semata. Pemahaman tambo tentunya perlu ditempatkan pada medan bedah dengan menggunakan pisau dalam konteks kiasan dan perumpamaan.
            Tulisan ini mencoba memberikan satu bentuk penafsiran tambo yang tentunya sangat debatable. Ada kemungkinan kesamaan tokoh dalam babak kisah tambo terutama Zulqarnaini dengan tiga putranya yang dalam perkembangannya dari anak yang bungsu si Maharajo Dirajo yang kemudian memiliki pelanjut yang kita kenal dengan Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang yang dibangsakan dengan awal mula berdirinya kominitas orang Minang.
            Sebagaimana teori pembangunan masyarakat Ali Syari’ati yang menjadikan Hijrah sebagai tonggak terbinanya suatu masayarakt baru, hal ini pun bisa terjadi pada masyarakat Minang tempo dulu. Ini artinya kedatangan Maharajo Dirajo ke ranah Minang ini tidak tertutup kemungkinan bahwa daerah ini sudah didiami lebih duluan oleh komunitas masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan adanya suku yang bernama Melayu yang sama namanya dengan nama komunitas masyarakat yang bertebaran di sepanjang pulau sumatera.
            Berangkat dari fakta ini. ada kemungkinan kalau yang kita maksudkan dengan orang Minang adalah orang yang pertama mendiami wilayah ini, maka tentunya suku Melayu ini paling berhak dinamakan dengan Masyarakat atau komunitas Minang yang meliputi masyarakat melayu Palembang dan lainnya. Namun kalau yang kita maksudkan itu yang dikatakan Minang itu adalah kelompok rombongan Maharajo Dirajo, maka telah terjadi pada waktu itu dominasi politik dan kekuasaan dari kelompok Maharajo Dirajo kepada masyarakat pribumi waktu itu sehingga lahirlah suatu tatanan budaya dan tatanan social yang dimonopoli oleh kelompok Maharajo Dirajo.
            Hal ini didukung dengan uraian tambo bahwa ada dua keselarasan yang dibangun pada waktu itu yaitu keselarasan Bodi Chaniagonya Datuak Parpatiah dan Koto piliangnya Datuak Katumanggungan. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan suku Melayu? Tidak ditemukan bukti bahwa suku melayu adalah pecahan dari Bodi Chaniago atau pecahan dari Koto Piliang. Kesimpulan pertama adalah Suku Melayu adalah suku masyarakat asli yang sama dengan suku dan etnis lain di Nusantara ini seperti Melayunya masyarakat di sepanjang pulau Sumatera.
            Bangunan masayarakat minang bisa dimaknai dengan terbinanya kumunitas manusia secara hakiki dan juga bisa diartikan dengan munculnya sebuah gagasan perlunya terbentuk suatu tatanan nilai, budaya dan peradaban.
            Sulit melakukan rasionalisasi ilmiah tentang pelayaran Maharajo Dirajo dan rombongan yang berlayar, dilamun ombak hingga akhirnya tampak cahaya api yang berkedip yang kemudian setelah didekatai ternyata memang cahaya api yang berada di puncak gunung merapi. Akhirnya disebut asal orang Minang adalah dipuncak Gunung Merapi. Semakin tidak bisa dirasionalkan ketika ungkapan tambo itu dilanjutkan dengan “aia basentak turun dan langik basentak naik. Kenapa tidak dikatakan Bahwa asal mula Ninik orang Minang itu naik dari pesisir pantai dan terus mendaki ke daratan luhak dan ranah.
            Hal ini menghendaki suatu penafsiran tentunya. Secara ilmiah, proses kedatangan Maharajo Dirajo tetap mengikuti rute alamiah yaitu dari pesisir pantai terus menuju daratan ranah dan luhak. Karena dalam berita al-Qur’an banjir besar yang menyisakan puncak-puncak gunung Cuma terjadi satu kali yaitu dimasa banjirnya Nabi Nuh.
            Penafsiran ini akan terbantu dengan memberikan jawaban terhadap pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan titiak palito, apakah yang dimaksud dengan cahayo yang terpejam-pejam, dan apa yang dimaksud dengan gunuang Marapi?
B. Interpretasi Gurindam Tambo Tentang Asal Nininik Moyang Orang Minangkabau  Dalam Perspektif Islam

            Titiak Palito (titik cahaya pelita) adalah lambang dari ketersingkapan sebuah ide dan gagasan karena sifat utama ide itu adalah menerangi dan menunjuki seseorang di dalam kebuntuan ide atau ketidak tahuan. Titik pelita adalah awal atau tapal batas antara ketidak tahuan dengan pengetahuan, tapal batas antara keraguan dengan keyakinan dan kepastian.
            Telong nan batali adalah gumpalan awan kegelapan malam yang akan berganti dengan cerahnya mentari pagi. Cahaya pelita Matahari akan muncul ketika proses pergantian malam dengan siang telah berlangsung.
            Dari mano asa niniak kito. Niniak bermakna leluhur.   Bisa juga dimaknai dengan asal yang paling tua atau juga bisa diartikan dengan gagasan utama atau ide yang muncul pertama kali. 
            Puncak Gunuang Merapi. Secara harfiah puncak gunung merapi adalah bagian tertinggi dari gunung Merapi.  Interpretasi filosofisnya adalah gunuang merapi merupakan lambing dari gundukan segumpal daging yang vterdapat di dalam dada manusia. Inilah yang dinamakan dengan Hati.  Hati atau Qalb memiliki tiga fungsi yaitu fungsi Shadar, fungsi hawa, dan fungsi fu’ad.

  1. Spiritualitas Masayarakat Minang
  1. Spiritualitas Hindu Budha

Islam masuk ke Minangkabau pada abad VI…………
Dapat dipastikan sebelumnya masyarakat minang adalah masyarakat Hindu Budha[1]

  1. Spiritualitas Islam Masyarakat Minangkabau.
  1. Spiritualitas Sufistik
  2. Spiritualitas Rasional


  1. Refleksi Pembangunan Spiritualitas Masyarakat Minangkabu ke Depan.
           


[1] Lihat tambo…………….. 
Tags:

SHARE

blog comments powered by Disqus